PROSES PENGOLAHAN MOL

PROSES PENGOLAHAN MOL

MOL adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal yang berpungsi sebagai Pupuk Organik atau Pertisida Organik. Bakteri yang terkandung di dalamnya dapat kita manfaat untuk mempercepat penguraian sampah menjadi Kompos Organik. MOL juga di pasarkan di toko-toko pertanian atau di Trubus yang di sebut dengan E4 seharga Rp 40.000 / botol.
Peroses pembuatan MOL sangat mudah dan sederhana. Disamping bahannya mudah di dapat biaya yang di butuhkan juga sangat ekonomis. Bahan dan cara pembuatan MOL antara lain:
1. Gula Merah ¼ Kg
2. Trasi 2 ons
3. Tapai ¼ Kg
4. Wadah (Jerigen isi 5 Liter)

Haluskan ke tiga bahan tersebut sebelum di masukkan kedalam jerigen,campur dengan air biasa atau bisa juga dengan sisa air cucian beras. Diamkan selama 5 hari untuk prooses pengembangan bakteri yang terkandung didalamnya. Lalu simpan di tempat lembab yang tidak terkena langsung cahaya matahari dan jauhkan dari jangkauan anak-anak.

MOL yang sudah siap pakai di campur dengan air secukupnya. Lalu siramkan ke sampah yang sudah di piilah-pilah antara sampah Organik dan non Organik secara merata. Lakukan berulang-ulang setiap jarak tiga hari. Dalam duapuluh satu hari sampah tersebut akan berubah menjadi kompos Organik yang sudah siap pakai.
SELAMAT MENCOBA…

SAMPAH JADI PENOPANG HIDUP

CIMG0207

Banyak kalangan masyarakat salah dalam mengartikan Sampah. Mereka beranggapan sampah suatu benda yang tidak bernilai. Jauh berbeda dengan para petani organic,mereka mengolah sampah sebagai pupuk kompos. Pupuk ini dapat menggatikan pupuk kimia yang mahal harganya

Pengolahan sampah menjadi kompos sesungguhnya tidak sulit dan membutuhkan biaya mahal.tahap awal adalah memisahkan sampah organic dan anorganik. Selanjutnya di cacah hingga ukurannya menjadi kecil kemudian di campur dengan MOL atau Mikro Organime Lokal. Proses ini dikenal dengan dekomposisi aerob (membutuhkan udara)


Manfaat pupuk organik dapat memperbaiki setruktur tanah dan memenuhi nutrisi pada tanaman. Selain hasil panen yang terbebas dari bahan kimia juga bagus di konsumsi.

Sutyo warga dusun Jatimenok yang menekuni pertanian organik hanya mampu memproduksi 40 ton pupuk. Sementara kebutuhan SL (Sekolah Lapang)  1000 ton tiap tahunnya. Pupuk organic olahan sutyo tidak hanya di minati SL,masyarakat sekitar juga beralih dari pupuk kimia ke pupuk organic yang di produksi sutyo. Setiap saknya di hargakan Rp 15.000 dengan berat 15 kg. singga sutyo mendapatkan penghaasilan tambahan sebesar Rp 39.600.000 setiap musimnya.

Keterbatasan modal pengadaan bahan pupuk organik sutyo bekerja sama pihak lain dengan ketentuan bagi hasil. Berkembangnya usaha yang di tekuni sutyo membuatnya ke walahan untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya. Disamping keterbatasan modal juga keterbatasan populasi ternak penghasil bahan mentah Pupuk Organic.

Dari penuturan diatas,bisa kita simpulkan memanfaatkan sampah dapat menjadi penopang hidup bagi masyarakat.  seharusnya pemerintah sudah memberikan perhatian serius dan dorongan agar kemandirian masyarakat terbangun.